Indonesia Mulai Berbisnis Alutsista ke Mancanegara

Screenshot_5

Perusahaan punya negara yang bergerak dalam bagian industri strategis bukan sekedar Pindad. Ada PT Dirgantara Indonesia (DI) yang merakit pesawat serta helikopter serta PT PAL Indonesia yang melayani pembuatan kapal perang.

Diluar itu, ada pula PT Dahana sebagai penyedia bahan peledak serta PT INTI dan PT LEN yang bergerak dalam bagian elektronika. Menurut data yang ada di Kementerian BUMN, nilai ekspor alutsista yang didapat dari PAL Indonesia th. lantas yaitu Rp524 miliar. Angka itu didapat dari penjualan kapal perang Strategic Sealift Vessel (SSV) sejumlah satu unit.

Pembelinya yaitu angkatan bersenjata Filipina. Dengan cara keseluruhan, Filipina pesan sejumlah dua kapal, dengan nilai penjualan kian lebih Rp1 triliun.

Deputi Bagian Usaha Pertambangan, Industri Strategis serta Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno, menyampaikan satu diantara nilai lebih dari SSV yang di jual PAL yaitu materialnya.
“Bajanya seratus % Indonesia, dari PT Krakatau Steel, ” katanya waktu terlibat perbincangan dengan VIVA. co. id.
Disamping itu, DI diberitakan bakal tutup 2016 dengan keseluruhan penjualan sejumlah Rp1, 1 triliun. Angka itu datang dari penjualan pesawat ke Thailand, Korea Selatan serta Senegal, dan penjualan komponen pesawat ke sebagian negara yang lain.

Sayangnya, dijelaskan oleh Fajar, penjualan itu yaitu berbentuk pesawat umum, bukanlah untuk kebutuhan militer. Selama ini, DI baru jual alutsista berbentuk helikopter ke tiga matra di TNI.

Bila ditotal, nilai penjualan alutsista dari semuanya industri strategis BUMN diperkirakan meraih Rp1, 8 triliun. Angka ini jauh bertambah dibanding dengan pencapaian th. terlebih dulu, yang terdaftar sebesar Rp1, 2 triliun.

Walau sekian, apabila dibanding dengan nilai ekspor nonmigas selama 2016, angka itu masihlah begitu kecil. Ditulis dari Tubuh Pusat Statistik, ekspor nonmigas 2016 meraih US$144, 43 miliar.

Kecilnya angka ekspor alutsista itu juga disadari oleh Fajar. Ia menjelaskan, nilai ekspor yang didapat dari Pindad waktu masihlah begitu rendah. “Masih kurang dari 15 % dari keseluruhan penjualan Pindad, ” katanya.

Masalah seretnya penjualan alutsista ke luar negeri memperoleh perhatian dari pengamat militer Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Kusnanto Anggoro. Ia menyampaikan, satu diantara pemicunya yaitu permasalahan kerja sama juga dengan pihak lain.
Parade alutsista HUT TNI ke-70

KRI John Lie (358) serta KRI Usman-Harun (359) punya TNI AL melintas waktu parade Alutsista Peringatan HUT ke-70 TN di Merak, 5 Oktober 2015. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Ia mencontohkan, pada 2012 ada perjanjian pada PAL Indonesia dengan Korea Selatan untuk bikin kapal selam di Indonesia. Sejumlah tiga unit.

Unit awal bakal di buat di Korea Selatan, unit ke-2 ditangani berbarengan serta unit ketiga dikerjakan di Surabaya. “Namun saat dikerjakan assesment, PAL Surabaya tak memiliki kekuatan karenanya, tak penuhi prasyarat dan sebagainya, ” tuturnya.

Hal yg tidak jauh tidak sama, disibakkannya, juga berlangsung waktu kerja sama pembuatan peluru kendali dengan China. “Sampai saat ini macet serta tak jalan. Lantaran China telah menuntut, kelak bila telah jadi, kita (Indonesia) disuruh turut bantu jualan, ” katanya.

Berkaitan kerja sama Pindad dengan Tata Motors, Kusnanto mewanti-wanti supaya perjanjiannya diperjelas. Satu diantaranya terkait dengan transfer tehnologi.
Menurut dia, transfer tehnologi itu bukanlah sekedar hanya tenaga pakar Indonesia yang cuma dilatih serta dididik. Namun juga berapakah banyak komponen lokal yang bakal dipakai.

“Karena dalam banyak masalah, kita kerja sama juga dengan satu negara, namun kita cuma digunakan sebagai batu loncatan untuk jual saja. Selanjutnya, cuma keuntungan berbagi saja, ” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *